Aturan Penulisan Kata Dasar dan Kata Berimbuhan - Edutorial

Aturan Penulisan Kata Dasar dan Kata Berimbuhan

Posting Komentar
Bahasa Indonesia mempunyai perbendaharaan kata yang kaya. Kekayaan perbendaharaan kata tersebut tidak lepas dari pembentukan kata melalui proses pengimbuhan (afiksasi). Kata yang telah mengalami afiksasi atau disebut juga kata berimbuhan mempunyai aturan/kaidah penulisan yang perlu diterapkan dalam hal tulis-menulis.  Berikut adalah aturan penulisan kata dasar dan kata berimbuhan berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
  1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Contoh:
Kantor pajak penuh sesak.
Saya pergi ke sekolah.
Buku itu sangat tebal.
Saya makan nasi.
Dia sedang minum teh.
  1. Afiks/Imbuhan (prefiks/awalan, infiks/sisipan, sufiks/akhiran, serta konviks/gabungan) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
    Contoh:
    bermain
    berkelanjutan
    mempersulit
    gemetar
    lukisan
    kemauan
    perkataan
Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Contoh:
sukuisme
seniman
kamerawan
  1. Bentuk terikat (klitik) ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
    Contoh:
    adibusana infrastruktur proaktif
    aerodinamika inkonvensional purnawirawan
    antarkota kontraindikasi saptakrida
    antibiotik kosponsor semiprofesional
    awahama mancanegara subbagian
    bikarbonat multilateral swadaya
    biokimia narapidana telewicara
    dekameter nonkolaborasi transmigrasi
    demoralisasi paripurna tunakarya
    dwiwarna pascasarjana tritunggal
    ekabahasa pramusaji tansuara
    ekstrakurikuler prasejarah ultramodern
Catatan:
  • Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya berupa huruf kapital atau singkatan yang berupa huruf capital, penulisannya dirangkaikan dengan tanda hubung (-).
    Contoh:
    non-Indonesia
    pan-Afrikanisme
    pro-Barat
    non-ASEAN
  • Bentuk maha yang diikuti kata turunan (bukan kata dasar) yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dan menggunakan huruf awal kapital.
    Contoh:
    Marilah kita bersyukur kepada AllahYang Maha Pengasih.
    Kita berdoa kepada Allah Yang Maha Pengampun.
  • Bentuk maha yang diikuti kata dasar (bukan kata turunan) yang mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.
    Contoh:
    Allah Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
    Mudah-mudahan Allah Yang Maha Esa melindungi kita.
Demikianlah aturan/kaidah penulisan kata dasar dan kata berimbuhan berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Marilah kita terapkan kaidah penulisan di atas dalam menulis tulisan berbahasa Indonesia.

Sumber:
Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Edisi Keempat, (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016) hlm. 16-18

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter