Aturan/Kaidah Penulisan Gabungan Kata/Kata Majemuk

Admin
Masih seringkah kita melakukan kesalahan dalam menulis gabungan kata? Agar kita tidak salah dalam menulis gabungan kata kita harus melihat pedomannya. Berikut adalah kaidah/aturan penulisan gabungan kata berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

  1. Unsur-unsur gabungan kata yang biasa disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah.
    Contoh:
    duta besar                  model linear
    kambing hitam         persegi panjang
    orang tua                    rumah sakit jiwa
    simpang empat         meja tulis
    mata acara                 cendera mata
  2. Jika gabungan kata bisa menimbulkan salah pengertian, maka penulisannya dengan menambahkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
    Contoh:
    anak-istri pejabat                            anak istri-pejabat
    ibu-bapak kami                                ibu bapak-kami
    buku-sejarah baru                           buku sejarah-baru
  3. Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan atau akhiran.
    Contoh:
    bertepuk tangan
    menganak sungai
    garis bawahi
    sebar luaskan
  4. Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.
    Contoh:
    dilipatgandakan
    menggarisbawahi
    menyebarluaskan
    penghancurleburan
    pertanggungjawaban
  5. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.
    Contoh:
    acapkali               hulubalang          radioaktif
    adakalanya          kacamata             saptamarga
    apalagi                  kasatmata           saputangan
    bagaimana          kilometer            saripati
    barangkali           manasuka           sediakala
    beasiswa             matahari              segitiga
    belasungkawa   olahraga               sukacita
    bilamana              padahal               sukarela
    bumiputra           peribahasa          syahbandar
    darmabakti         perilaku                wiraswasta
    dukacita               puspawarna

Demikianlah kaidah/aturan penulisan gabungan kata berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Sumber:
Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Edisi Keempat, (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016) hlm. 19-20

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Aturan Penulisan Kata Ulang (Bentuk Ulang)

Dalam Bahasa Indonesia sangat banyak sekali kata ulang. Pengulangan/reduplikasi dalam Bahasa Indonesia bersifat produktif dan itu dapat menambah kekayaan perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia. Namun perlu diperhatikan bahwa kata ulang mempunyai aturan penulisan yang perlu kita terapkan. Berikut adalah aturan penulisan kata ulang/bentuk ulang berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia […]