Bagaimana cara mudah mengartikan maksud pantun?

Pantun ialah sejenis puisi lama yang terdiri dari empat baris per baitnya. Baris pertama dan kedua berupa sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isinya.

Salah satu unsur intrinsik puisi adalah amanat. Pantun sebagai puisi, tentu juga mengandung amanat atau pesan yang ingin disampaikan pembuatnya kepada para pendengar atau pembacanya.

Pantun tidak mungkin dibuat tanpa maksud, dan hanya sekadar bualan tanpa arti. Pantun pastilah mempunyai maksud. Lalu, bagaimana cara mudah mengartikan maksud pantun?

Sebagaimana yang telah Admin paparkan di atas. Baris pertama dan kedua pantun hanyalah sampiran, sedangkan isi atau maksud sebenarnya dari pantun tersebut ada pada baris ketiga dan keempat.

Baris pertama dan kedua adalah sampiran. Fungsinya untuk menyediakan bunyi pada akhir tiap barisnya. Bunyi tersebut nantinya akan disesuaikan dengan bunyi akhir tiap baris isinya. Dengan begitu akan tercipta keindahan karena adanya pola bunyi yang sama antara baris satu dengan ketiga dan baris kedua dengan keempat.

Karena hanya sampiran, maka isi kalimat yang terkandung pada baris pertama dan kedua tidaklah penting. Untuk itu, agar bisa mengartikan maksud pantun dengan mudah, fokus saja pada baris ketiga dan keempat. Sedangkan baris pertama dan kedua kita abaikan saja.

Setelah mengetahui bahwa isi pantun ada pada baris ketiga dan keempat, langkah selanjutnya adalah kita perlu menelaah maksud yang terkandung pada baris ketiga dan keempat tersebut.

Untuk mengetahui jenis pantun apakah pantun jenaka, pantun nasihat, atau pantun larangan, kita perlu mengamati susunan dan makna kalimatnya. Jika isi pantun tersebut lucu atau berisi hal-hal yang tidak masuk akal, maka pantun tersebut adalah pantun jenaka. Jika, isi pantun tersebut berupa kata-kata bijak, atau anjuran berbuat baik, maka pantun tersebut adalah pantun nasihat. Jika pantun tersebut berisi larangan untuk melakukan sesuatu yang ditandai dengan kata-kata seperti: jangan, janganlah, tidak boleh, dan dilarang, maka pantun tersebut adalah pantun larangan.

Baca Juga:  Contoh Majas Klimaks dan Antiklimaks

Untuk mengetahui jenis pantun, mungkin kita bisa melakukannya dengan mudah. Namun, untuk mengartikan maksud atau makna yang terkandung pada pantun bisa jadi sangat sulit.

Pantun yang digunakan secara lisan, yaitu ketika bercakap-cakap dengan orang lain dalam pergaulan biasanya mudah dipahami. Hal itu karena isinya yang gamblang dan apa adanya. Isi pantun tersebut berupa obrolan biasa hanya saja dikemas dalam bentuk pantun.

Meski ada pantun yang mudah dipahami, tak jarang pantun yang sulit dipahami pun sering kali kita temui. Hal itu karena pantun merupakan salah satu jenis puisi yang merupakan karya sastra.

Sebagai puisi/sastra, kalimat-kalimat pantun bisa saja berupa rangkaian kalimat yang puitis dan sastrawi. Misalnya menggunakan kosakata yang indah dan tidak umum, menggunakan makna konotasi, menggunakan metafora atau majas lainnya. Maka untuk mengartikan maksud pantun seperti ini kita harus jeli dalam menafsirkannya.

Contoh cara mengartikan maksud pantun

Contoh pantun yang terkenal dan kerap disebut dalam buku pelajaran adalah:

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ketepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Untuk mengetahui maksud pantun tersebut, kita abaikan saja baris pertama dan kedua, kita fokus pada baris ketiga dan keempat, yakni:

Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Sekarang coba artikan maksud pantun tersebut!

Misalnya, Admin pribadi mengartikan pantun itu sebagai bentuk nasihat. Yakni, untuk meraih kesenangan/kebahagiaan, maka kita perlu berjuang atau bersakit-sakit terlebih dahulu. Misalnya: Supaya lulus ujian, kita harus belajar terlebih dahulu; supaya bisa panen, petani perlu menanam dan merawat tanaman terlebih dahulu; supaya mendapatkan uang, seseorang perlu bekerja terlebih dahulu, dll.

Subscribe
Notifikasi

0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar