Penulisan Ramadhan yang Benar: Ramadhan atau Ramadan?

Ramadan adalah salah satu nama bulan dalam kalender Hijriah. Bulan Ramadan disebut juga dengan bulan puasa karena pada bulan ini umat muslim diwajibkan menjalani ibadah puasa.

Bicara soal Ramadan, penulisan nama bulan ini ternyata tidak seragam. Saat ini, biasanya Ramadan ditulis dengan Ramadhan atau Ramadan. Selain itu, kita mungkin mendapati Ramadan ditulis dengan Romadhon atau Romadlon. Lantas, manakah penulisan Ramadan yang benar?

Kata Ramadan sebenarnya berasal dari bahasa Arab. Adapun tulisan aslinya dalam bahasa Arab yaitu رمضان. Masyarakat Indonesia banyak yang melatinkan huruf ض dengan dh, itulah mengapa Ramadan ditulis dengan Ramadhan. Selain itu, ada pula orang yang melatinkan huruf ض dengan dl, itulah mengapa ada yang menulis Ramadan dengan Romadlon.

Lalu, mengapa ada yang menulis Ramadan dengan huruf o bukan a, yakni Romadhon bukan Ramadhan, serta Romadlon bukan Ramadlan. Alasannya bisa jadi karena dalam bahasa Arab pengucapan ر dan ض yang berharakat fathah, vokalnya terdengar seperti bunyi o.

Namun sebenarnya, dalam bahasa Arab harakat fathah memiliki bunyi a bukan o. Hanya saja, huruf رَ (ra fathah) harus dibaca tafkhim (tebal), yakni dengan cara agak mecucu (bibir menjorok ke depan). Alhasil, meskipun yang diucapkan adalah ra tetapi bunyi yang keluar terdengar seperti ro.

Sementara itu, ضَ (dad fathah) vokalnya juga terdengar seperti o. Penyebabnya, mungkin karena makhraj-nya yang berada di tepi lidah/pangkal tepi lidah (bisa kanan atau kiri). Alhasil, ketika diucapkan vokalnya terdengar mirip bunyi o meskipun aslinya a.

Sekarang, tinggal masalah konsonannya. Mana yang benar Ramadan, Ramadhan, atau Ramadlan (menggunakan d, dh, atau dl)?

Penulisan Ramadan Menurut Kaidah Penulisan Unsur Serapan

Banyak orang yang menulis Ramadan dengan Ramadhan atau Romadlon. Penyebabnya bisa jadi karena mereka menginginkan tulisan yang lebih sesuai dengan pelafalan Arabnya. Kata Ramadan dianggap tidak tepat karena huruf d berarti huruf د dalam tulisan Arab (bukan ض).

Namun, meskipun kata Ramadan berasal dari bahasa Arab, tetapi kata ini sudah diserap dalam bahasa Indonesia. Jadi, penulisannya harus mengikuti kaidah bahasa Indonesia.

Menurut kaidah unsur serapan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, ḍad (ﺽ Arab) menjadi d. Jadi, penulisan yang benar adalah Ramadan bukan Ramadhan ataupun Ramadlan.

Penulisan Ramadan Menurut Kaidah Transliterasi

Ada kalanya kata Ramadan ini berupa rangkaian kalimat bahasa Arab. Misalnya pada kalimat “Marhaban ya Ramadan.” dan “Ahlan wasahlan ya Ramadan.”. Jika kasusnya seperti ini, kita harus menggunakan transliterasi. Penulisan contoh dua kalimat tadi sebenarnya masih salah karena belum sesuai pedoman transliterasi.

Transliterasi yang digunakan di masyarakat cukup beragam. Ada yang mengalihaksarakan ض dengan dh ataupun dl. Sehingga, رمضان ada yang melatinkannya menjadi Ramadhan ataupun Romadlon. Namun kamu harus tahu, transliterasi seperti ini bukanlah transliterasi resmi.

Transliterasi yang perlu kita gunakan adalah transliterasi yang resmi, yakni Pedoman Transliterasi Arab-Latin Hasil SKB 2 Menteri No. 158 Tahun 1987 dan No. 0543b/U/1987. Jika menggunakan transliterasi tersebut, penulisan yang benar adalah Ramaḍān, sehingga pada rangkaian kalimat Arabnya menjadi:

  1. Marḥaban yā Ramaḍān.
  2. Ahlan wasahlan yā Ramaḍān.

KBBI vs Transliterasi, Mana yang Benar

Penulisan yang benar itu versi KBBI atau versi transliterasi? Penulisan yang benar adalah versi KBBI jika kata tersebut sudah dibakukan. Transliterasi Arab-Indonesia hanya digunakan untuk:

  • Kata bahasa Arab yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia
  • Sudah dibakukan, tetapi kata tersebut digunakan dalam rangkaian teks Arab.

Aturan ini termaktub dalam Pedoman Transliterasi Arab-Latin Hasil SKB 2 Menteri No. 158 Tahun 1987 dan No. 0543b/U/1987.

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, penulisan Ramadan yang benar adalah Ramadan bukan Ramadhan. Namun jika kata Ramadan digunakan dalam rangkaian teks Arab, maka penulisannya harus mengikuti kaidah transliterasi, misalnya “Marḥaban yā Ramaḍān.” dan “Ahlan wasahlan yā Ramaḍān.”

Oh iya, ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui. Menurut aturan PUEBI, huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bulan. Jadi, penulisan yang benar adalah Ramadan bukan ramadan.

Subscribe
Notifikasi
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar